ecoMOM

Resolusi ecoMOM.

Bumi sudah tua. Makanya iklim berubah drastis dan banyak orang bahkan institusi melakukan kampanye Global Warming. Kita memang sudah harus mulai melakukan sesuatu dari sekarang. Sekecil apapun.

Daripada cuma lempar kritik, ada baiknya saya melakukan sesuatu supaya tidak dicap NATO. No Action Talk Only.

Saya ingin memulainya dari dapur, tempat terdekat dan termudah yang bisa saya jangkau. My sanctuary place.

Demi kelangsungan lingkungan hidup saya memutuskan  menjadi ibu yang lebih pelit ekonomis untuk keluarga kecil saya. Semoga bisa menular. Itulah judul resolusi hijau saya, being an ecoMOM.

Memangnya apa yang bisa dilakukan dari dapur? Banyak.

Ini beberapa ecoMOM action yangsudah saya  jalankan diantaranya:

Tidak lagi pakai kantong kresek bekas untuk tempat sampah

CIMG6136Sudah bertahun-tahun saya menggunakan kantong kresek bekas untuk tempat sampah, yaitu plastik yang paling sering didapat dari hasil belanja, baik dari warung tradisional atau toko modern. Plastik ini saya pasang di beberapa ruangan, mulai dari dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan kamar mandi.

Tapi tahun  ini saya mulai untuk berpikir 2 kali untuk tidak menggunakannya  lagi dengan alasan:

  • Plastik butuh waktu yang lama untuk terurai dengan tanah. Saya ngga ingin ketemu plastik yang sama tahun 2025 nanti *kalo dipanjangkan umur*. Apalagi mewariskannya sebagai sampah masa lalu untuk anak dan cucu saya. Hiiiy.
  • Jika dibakar akan menghasilkan zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
  • Kurang aman untuk makanan apalagi yang berwarna hitam.

Jadi solusi yang saya pilih adalah memisahkan sampah basah dan kering.

Tempat bumbu dari bekas kemasan

CIMG6328Ini langkah terfavorit dan menyenangkan. Kini saya punya tempat bumbu yang kemasannya hampir seragam. Dari yang ukuran kecil sampai besar.

Bekas kemasan botol kaca malah super multiguna karena bisa digunakan untuk gula cair, tepung, saus, selai, bawang goreng, sambal, sisa putih telur, dsb.

Selanjutnya toples kaca mungkin rencananya saya gunakan untuk tempat yogurt buatan sendiri.

Memisahkan sampah

Ternyata sampah terbanyak di rumah adalah berasal dari dapur saya, 1 – 2 kantong penuh per hari, kira-kira seberat 1 kilo atau lebih. Gila ya. Sejak akhir Maret 2010 saya bertekad memisahkan sampah basah (organik) dan kering (plastik, kertas dan bekas kemasan). Benar saja, per minggu hanya menghasilkan satu ember sampah kering. Wow.

Saya membuat sampah organik dari sisa-sisa makanan di lubang tanah pekarangan rumah. Walaupun suami saya masih skeptis tapi saya pantang mundur. Semangat!

CIMG6291Dengan cara ini saya dapat mengurangi penggunaan kantong kresek untuk tempat sampah karena tidak dibutuhkan untuk versi yang kering.

Tapi jika memang benar yang suami saya bilang bahwa lubangnya mengeluarkan bau, sepertinya saya akan cari ember bekas untuk bikin keranjang Takakura. Sekalian bikin pupuk kompos untuk tanaman suami saya. Sebab dulu saya dibuatkan lubang yang lebih besar dari ini, namun kini ditutup dan ditanami pohon jeruk purut, dengan alasan bau tadi.

Belanja sebulan sekali

Suami saya selalu menyarankan supaya saya belanja on demand saja karena mestinya bisa lebih murah. Tapi saya kurang sependapat.

Menurut saya, kita saya akan cenderung impulsive jika sebentar-bentar ke pasar atau  ke supermarket. Ini terbukti ketika saya belanja sayuran setiap pagi. Bayangkan, jika saya berniat membeli 1 keju saja, contoh di pasar swalayan, pasti yang masuk kantong, bukan cuma keju. Ada sekotak susu lah, permen lah atau sebotol minuman dingin, apalagi kalo bawa anak, pasti ada aja yang ditunjuk. Beuh. Kecuali benar-benar bawa uang pas. Bener kan?

Bolak-balik ke supermarket juga butuh tenaga, belum lagi emisi dari kendaraan yang kita pakai, plus biaya parkir yang belum pernah turun sepanjang sejarah.

Sebaliknya ketika saya melakukannya sebulan sekali, saya akan patuh pada daftar belanjaan yang sudah dibuat, walaupun selalu ada bonus tambahan tapi setidaknya tidak setiap minggu.

Sejujurnya cara ini lebih efektif untuk saya karena sebelum melewati mesin kasir, biasanya saya akan  me-review total barang belanjaan dan melakukan sedikit sensor supaya ngga semaput waktu bayar hohohoho.

Langganan susu keliling

Hampir 3 tahun sejak saya menempati rumah ini, saya berlangganan susu sapi cair. Dan 6 bulan belakangan ini nambah susu kedelai. Bukan saja bisa hemat rupiah, tapi juga praktis saya hanya jaga gawang saja menunggu kiriman datang tanpa tambahan biaya kurir😛

Memang betul, masih ada sampah kemasan karena per kantong berisi 500ml sementara saya beli minimal 2, namun kedua penjual susu ini berkeliling setiap hari menggunakan sepeda. Bebas emisi. Phewh!

Post & Record

Apa Bahasa Indonesianya ya. Memisahkan dana pengeluaran sesuai bujet masing-masing kebutuhan pada amplop, nah itu. Tapi itu dulu, sekarang cuma kertas bekas kecil yang saya streples pada sejumlah uang demi kepraktisan.

Mencatat setiap pengeluaran sesuai bujet termasuk yang tak terduga. Kalo nombok, minta lagi sama bank suami sambil bilang “kurang banyak” hahahaha. *Plak*

Bawa ransum dari rumah

Meski tidak dilakukan setiap hari karena masalah managemen waktu di pagi hari, langkah ini sebenarnya paling ideal dan menyenangkan buat saya.

Membawa ransum makan pagi atau siang dari rumah dengan kotak sendiri adalah langkah penghematan biaya, mengurangi sampah plastik atau sterofoam dan mengurangi beban otak dari pikiran “makan apa ya?” setiap istirahat siang.

Tas lipat serba guna

Sejak punya tas lipat yang selalu saya bawa kemana-mana, rasanya bangga sekali bisa bilang ke kasir, “saya pake tas sendiri ya” untuk barang belanjaan yang sifatnya occasional. Kalau untuk bulanan saya masih perlu mengkoleksi beberapa tas yang agak banyak :p

Beberapa respon yang sering saya jumpai, kasirnya takjub dan saya merasa diistimewakan. Mungkin karena mereka berhasil menghemat plastiknya ya hahaha. Tapi ada juga yang heran dan “molohok” tidak percaya.

Begitulah action saya untuk menjadi ecoMOM. Do’akan saya konsisten ya :p

Proyek ecoMOM masa datang yang ingin sekali saya lakukan tapi belum juga terealisasi adalah:

  1. Membuat soygurt (yogurt susu kedelai) sendiri untuk mengurangi sampah kemasan.
  2. Membuat rajutan berbahan kantong kresek dari sampah plastik seperti ini dan ini.
  3. Membuat kerajinan tas belanja dari sampah plastik kemasan.