Mengenal Uniknya Teh Premium Indonesia bersama @detikFood

​​Teh Indonesia sudah ada sejak jaman Belanda tahun 1800-an dan berasal dari 3 (tiga) perkebunan. Yang terbesar adalah PTPN 8 sebagai penghasil teh hitam untuk diekspor, kedua, perkebunan besar swasta dan ketiga, perkebunan rakyat. Ketiganya menghasilkan produk yang berbeda dimana kebanyakan menghasilkan teh hitam dan teh hijau mentah untuk kemudian diolah menjadi teh rakyat, yaitu teh melati, teh yang paling banyak kita kenal.

Teh berasal dari daun pohon teh, yaitu Camellia Sinensis dan memiliki 2 varian yaitu bibit Camellia Sinensis var. Sinensis dan Assamica dengan karakteristik dan rasa yang berbeda-beda. Sedangkan untuk minuman yang berasal dari semua tanaman baik herba maupun bunga seperti chamomile, rosella dan jati Belanda yang diolah menyerupai teh, disebut Tisane, kurang tepat disebut teh dan tidak mengandung kafein.

Jenis teh yang diproduksi di Indonesia adalah teh hitam yang dioksidasi 100%, teh hijau yang diproses tanpa oksidasi, teh putih yang lebih minim proses, memiliki rasa flat dan paling mahal di Indonesia, dan teh oolong yang dioksidasi 50% dan dilakukan bertahap. Teh oolong ini masih belum banyak diproduksi di negara kita, karena prosesnya paling sulit sehingga masih harus mendatangkan master dari Taiwan.

Ada beberapa proses pembuatan teh, pertama, teh dilayukan terlebih dahulu, ini disebut proses withering. Kemudian teh hijau dibuat dengan cara pan fried, sementara teh hitam dibuat dengan metode orthodox (masih berbentuk daun) dan CTC yang kejam hehehe karena harus dihancurkan, disobek kemudian digulung (crush, tear dan curl) bahkan ada yang dijejak, wew banget. Proses selanjutnya adalah teh dioksidasi, dikeringkan, kemudian grading dan terakhir packing.

Demikian presentasi ahli teh Ratna Somantri di kelas workshop teh Indonesia yang diselenggarakan oleh DetikFood dan Teh 2Tang, Minggu, 21 Agustus lalu di studio masak bergengsi, Almond Zucchini, kawasan Prapanca, Jakarta Selatan.

Tiket masuk kelas ini saya dapat dari kontes foto Instagram @detikfood #enjoymyteatime sebagai salah satu pemenang. Yeay!

Di kelas ini, peserta berkesempatan mengenal, mengamati, mencium, menyajikan, sekaligus icip-icip beragam jenis teh. “Harapannya dari kelas ini nanti akan banyak bermunculan pecinta teh yang mendukung penggunaan teh premium Indonesia”, ujar Mbak Odilia dari DetikFood saat membuka acara.

Awalnya saya pikir teh oolong itu, dari namanya, berasal dari China, tapi ternyata kebanyakan teh berasal dari Indonesia karena negara kita merupakan penghasil teh terbesar ke 7 di dunia. Namun 60% nya langsung dijual ekspor dengan harga cukup rendah dibanding harga teh dunia yang rata-rata berkisar $2.5/ kilo, yaitu hanya $1,5 per kilo (grade A). Teh premium yang langsung diekspor itulah penyebab kebanyakan masyarakat kita belum terlalu mengenal teh negeri sendiri. Sayang banget ya? Padahal di Jepang, China dan Korea, teh merupakan salah satu minuman yang dikonsumsi para bangsawan dan raja-raja sehingga apresiasi mengenai teh di negara tersebut sangat tinggi. Sementara di Indonesia, teh hanya dijadikan komoditas untuk diekspor ke Eropa sehingga kita tidak tahu bagaimana cara menikmati bahkan mengapresiasinya. Di Jepang bahkan ada upacara teh segala. efek kebanyakan nonton Oshin

Kalau di Jepang ada Matcha, di Indonesia ada Sencha Indonesia Green Tea dan menyajikannya pun ternyata ada caranya, pemirsa! Menyeduh teh tidak boleh terlalu lama dan takaran harus sesuai, yaitu 1 sendok teh atau 1 kantong per 1 cangkir 250ml. Terlalu lama menyeduh teh akan melarutkan zat yang tidak penting, merubah rasa dan juga warna. Teh hijau misalnya, tidak boleh diseduh dengan air 100°C, cukup 80-85°C selama 1-3 menit. Oolong diseduh dengan suhu 80-95°c selama 3-5 menit. Teh Hitam dengan suhu 90°c selama 3-5 menit. White Tea diseduh selama 5 menit dengan suhu 70-80°C supaya hasilnya lembut.


Saking banyaknya jenis teh Indonesia yang rasanya unik dan berbeda-beda, saya jadi mabok sendiri waktu tea-tasting. Tapi sebagai kesimpulan, teh Oolong buat saya adalah juaranya terutama yang Taiwan dan Chinese style karena keduanya berasal dari varian sinensis yang karakternya lebih harum, segar dan manis. Sementara yang Indian style lebih berkarakter kuat dan rasanya sedikit karamel dan nutty karena berasal dari varian assamica. Sayangnya, ngga cukup waktu untuk coba white tea, atau mungkin harganya terlalu mahal untuk diseduh ya? Hehehe.

Yang lebih juara lagi, selesai acara, selain dapat goodybag beragam teh Nusantara, saya berhasil menggondol doorprize tea set mewah dari Royal Albert. Alhamdulillah ya, Sis?

Dari pengalaman yang saya ceritakan ke Ammar, sesampainya di rumah, sekarang dia jadi lebih mengapresiasi teh. Tiap pagi bikin teh dan harus pake cangkir plus alasnya. Anak itu lucu sekali deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s